Welcome to my Blog!

Selasa, 03 Mei 2011

Pidato Ketahanan Pangan

Bismilahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Hadirin sekalian yang saya muliakan
Alhamdulillah, hari ini dengan ridho Allah SWT kita dapat menghadiri acara yang sungguh penting yaitu penyerahan tanda-tanda penghargan dari negara kepada para pimpinan dan putra-putri terbaik bangsa, yang telah berprestasi dan berhasil untuk meningkatkan ketahanan pangan di negeri ini.

Saya harus mengucapkan selamat dengan tulus dan penuh pengharapan kepada para gubernur, para bupati, para walikota, para kepala desa, para pimpinan kelompok usaha tani, para pimpinan dunia usaha, termasuk perseorangan-perseorangan yang dengan gigih dan bekerja keras telah menjadi teladan di dalam meningkatkan ketahanan pangan kita. Saya berharap prestasi yang telah saudara-saudara raih dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan di masa mendatang.

Saudara-saudara,
Bulan Desember ini kalau dari sisi pertanian atau dari sisi petani adalah bulan panen. Artinya negara dan pemerintah banyak memberikan tanda penghargaan sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada sekali lagi para pimpinan, para pejabat, pimpinan organisasi apapun organisasi itu, termasuk perseorangan yang benar-benar berprestasi di dalam kegiatan pembangunan yang terus kita laksanakan ini. Kalau menanamnya baik, Januari mulai katakanlah dipelihara sepanjang tahun insya Allah Desember seperti ini banyak yang panen. Oleh karena itu, seraya bersyukur teruslah dijaga prestasi dan kinerja ini untuk bisa lebih ditingkatkan di waktu yang akan datang.

Banyak juga yang mbanjir. Tahu mbanjir, bapak-ibu? Kalau di kampung saya, Pacitan, seseorang yang dapat rejeki berturut-turut itu istilahnya mbanjir. Tadi malam ada dua gubernur yang dapat penghargaan sebagai ke dalam aspek pendidikan, pembangunan pendidikan, pak Gubernur DIY dan pak Gubernur Jawa Tengah dan saya tahu tadi pak Bupati Demak, betul. Ya saya ingat tiga dan makin banyak tanda penghargaan yang diterima tentu membawa citra kehormatan dan kemulian bukan hanya pada beliau-beliau orang-seorang tetapi juga bagi daerah dan masyarakat yang dipimpin.

Hadirin yang saya hormati,
Pada bulan Mei tahun ini, kita selenggarakan konferensi ketahanan pangan yang diprakarsai oleh Dewan Ketahanan Pangan. Pada tingkat nasional saya adalah ketuanya dan Menteri Pertanian adalah ketua harian, sedangkan di tingkat provinsi ketuanya adalah para gubernur. Konferensi yang kita selenggarakan 7 bulan yang lalu itu adalah konferensi yang menurut saya sangat produktif untuk bersama-sama meningkatkan komitmen, menjalankan langkah-langkah nyata di lapangan atas dasar rencana dan program aksi yang baik.

Saya masih ingat waktu itu para gubernur juga hadir, bupati, walikota, anggota parlemen, pimpinan dunia usaha, para duta besar dan pimpinan organisasi internasional, pimpinan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan banyak lagi. Kita membahas banyak hal, saya juga menyampaikan ajakan dan harapan kepada peserta konferensi waktu itu yang semuanya bertujuan untuk lebih meningkatkan ketahanan pangan kita secara nasional. Kita bahas juga sejumlah isu dan permasalahan yang kita hadapi dan kemudian akhir dari konferensi waktu itu kita rumuskan kebijakan, strategi dan program-program aksi yang mesti kita jalankan.

Boleh dikatakan prestasi yang diraih oleh saudara-saudara hari ini itu juga merupakan contoh nyata bahwa kalau kita sungguh ingin meningkatkan ketahanan pangan dengan konsep dan rencana yang baik, dijalankan dengan baik, dipimpin dan dikelola dengan baik. Insya Allah hasilnya akan nyata. Oleh karena itu, marilah kita teruskan upaya meningkatkan ketahanan pangan itu berangkat dari apa yang kita konferensikan 7 bulan yang lalu itu dan tentunya apa yang dikembangkan sendiri oleh para gubernur, bupati, walikota dan saudara sekalian sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di masing-masing daerah.

Hari ini saya tidak ingin mengulangi apa yang saya sampaikan pada konferensi ketahanan pangan bulan Mei yang lalu. Tetapi hari ini boleh dikata saudara-saudara hari yang penuh kebahagiaan dan kesyukuran karena saudara menerima penghargaan dari negara. Oleh karena itu, saya ingin banyak bercerita dan berbagi dalam arti sharing, baik pengetahuan ataupun pengalaman tentu yang berkaitan dengan upaya kita meningkatkan ketahanan pangan secara nasional, dan tentu dengan cerita dan berbagi pengalaman serta pengetahuan ini kita bisa bekerja lebih keras lagi, lebih giat lagi dan lebih gigih lagi di masa depan.

Pertama-tama, saya ingin cerita tentang dunia kita apa yang tengah terjadi, kemudian yang kedua nanti saya ingin cerita tentang negara kita sendiri apa pula yang sedang terjadi dan kita hendak menuju kemana.

Saudara-saudara
Lima tahun yang lalu, saya sering mengatakan bahwa jumlah penduduk di bumi ini adalah 6,6 miliar, tapi mulai tahun 2010 saya mengatakan jumlahnya telah menjadi 6,8 miliar manusia. Saya baru saja membaca tadi pagi majalah yang terbit di luar negeri yang berjudul Forum Policy, dan juga dunia di tahun 2011 yang diterbitkan oleh The Economist, di situ tercantum prediksi ilmiah berapa jumlah penduduk pada tahun 2011, 2012 mendatang, gamblang sekali.

Pada tahun 1999 berarti itu 11 tahun yang lalu, ada seorang warga negara Bosnia yang bernama Adnan dicatat oleh PBB menjadi manusia ke 6 miliar waktu itu. Menurut yang saya baca tadi pagi 2011, 2012 akan lahir baru, Adnan yang baru meskipun namanya tentu berbeda, bangsanya berbeda, negaranya berbeda akan menjadi manusia yang ke 7 miliar. Jadi siap-siap kita hidup di bumi yang dihuni oleh 7 miliar manusia yang tentu memerlukan pangan, energi, air dan sejumlah kebutuhan manusia untuk kehidupannya yang juga maha besar.

Sekarang ini saja, dari 6,8 miliar manusia, ada 850 juta yang secara kronis hidupnya dalam kelaparan. Malam hari sulit tidur, karena perutnya kosong. 17 ribu anak-anak utamanya di negara-negara yang menghadapi persoalan pangan mesti meninggal dalam setiap harinya. 17 ribu anak-anak meninggal setiap harinya karena lapar, karena kekurangan pangan.

Mengapa ini terjadi? Banyak faktornya: kemiskinan yang absolut masih terjadi di banyak tempat, perubahan iklim yang menganggu produksi dan produktivitas pertanian kita, konsumsi atas pangan yang juga meningkat bukan hanya untuk 6,8 miliar manusia tadi, tapi di seluruh dunia telah bertumbuh yang namanya kelompok menengah, the middle class. The middle class inilah yang ternyata juga mengkonsumsi lebih banyak makanan karena pendapatannya, karena penghasilannya atau income-nya juga bertambah tinggi.

Oleh karena itu, tidak heran kalau dunia kita sering mengalami krisis pangan, baik ketersediaannya, distribusinya maupun keterjangkauan harganya. Oleh karena itu, kalau pada tingkat dunia kita selalu membahas di forum manapun juga, mari kita bekerjasama, bermitra, saling bantu-membantu untuk menyelamatkan pangan dunia, food security, pada tingkat global.

Itu yang mesti kita pahami dunia kita dengan segala kompleksitas kehidupannya akibat jumlah penduduk yang kian meningkat, sedangkan buminya tidak berkembang, bahkan sumber daya alamnya makin berkurang. Itu cerita tentang dunia.

Mari kita lihat cerita atau potret tentang negara kita sendiri. Kalau dunia mengalami krisis, hampir pasti Indonesia terkena. Ada krisis minyak, ada krisis pangan, ada krisis beras misalnya. Dampaknya langsung kita rasakan, begitulah tata perekonomian dunia yang sudah terintegrasi, saling kait-mengait satu dengan yang lain.

Kalau kita lihat daerah-daerah kita, provinsi-provinsi, kabupaten dan kota sampai desa di seluruh tanah air ini, apa yang kita lihat paling tidak 6 tahun terakhir ketika saya mengemban amanah sebagai Presiden, kelihatan ada daerah yang lebih atau yang surplus, tapi juga ada daerah yang minus atau yang kurang, yang defisit. Ini sendiri sudah merupakan persoalan kalau tidak kita kelola dengan baik. Cara mengatasinya ya: kalau bisa yang defisit, yang minus kita bikin cukup dan surplus. Sementara belum bisa harus dibikin distribusinya secara nasional baik, konektivitasnya baik, perdagangan antar pulau baik, dengan demikian secara nasional mendapatkan kecukupan pangan yang baik.

Penduduk kita sekarang berjumlah 237 juta jiwa, itu hasil sensus yang dilaksanakan oleh BPS beberapa saat yang lalu. Dengan cerita ini saya ingin mengatakan bahwa kecukupan pangan, ketahanan pangan termasuk di dalamnya swasembada untuk komoditas pangan tertentu merupakan tantangan yang harus kita jawab dari waktu ke waktu.

Hadirin yang saya hormati
Pertanyaannya sekarang adalah apa jawabannya? Apa solusinya? Untuk memastikan makin ke depan ketahanan pangan kita makin baik, makin ke depan seluruh Indonesia bisa terhindar dari krisis-krisis lokal, kurang gizi, kurang pangan ada yang malah terjadinya kelaparan di kecamatan atau distrik tertentu apa yang mesti kita lakukan?

Yang mesti kita lakukan tentu saja secara nasional semua berupaya dengan gigih untuk meningkatkan produksi pangannya, meningkatkan kecukupan, supply atau pasokan pangannya, meningkatkan distribusi secara agar harga tetap terjangkau dan stabil, dan juga tentunya menuju ke kemandirian pada komoditas-komoditas tertentu. Ini solusi yang mesti kita lakukan dan tidak boleh berhenti, terus-menerus harus kita lakukan.

Organisasi internasional memiliki cakupan, peran dan tugas berkaitan dengan pangan dunia, yaitu FAO mengatakan bahwa negara-negara yang berhasil meningkatan ketahanan pangannya, food security, menurut FAO adalah negara yang ekonominya terus tumbuh, utamanya pertaniannya juga terus tumbuh dan penduduknya bisa dikontrol untuk tidak meledak. Jadi jumlah penduduk itu akan bisa didukung oleh kapasitas yang ada di dunia kalau itu global, kapasitas di tanah air kita kalau itu nasional, logis. Oleh karena itu kalau kita ingin menyukseskan program keluarga berencana, ada kaitannya dengan daya dukung, sepenggal dari bumi ini yaitu tanah air Indonesia.

Atas dasar kajian, survei, penilaian dan pengalaman-pengalaman empirik. Oleh karena itu, saudara-saudara masih dalam menjawab dan mencari solusi secara nasional, maka sekarang ini secara nasional tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota untuk betul-betul all out. All out itu ya habis-habisan bekerja sangat keras, apapun harus kita lakukan untuk bisa meningkatkan ketahanan pangan tadi, sebab dunia sering mengalami krisis pangan, negara kita juga punya permasalahan yang fundamendal yang saya sampaikan tadi.

Saudara-saudara
Banyak teori, banyak bacaan, banyak anjuran dalam era globalisasi ini ya kita harus bisa go global. Kita harus memahami hukum-hukum perdagangan dunia, demikian juga di bidang pangan dan energi misalnya. Yang tidak paham tentang dunia, tentang globalisasi, yang tidak bisa go global, yang tidak bisa mengintegrasikan dirinya dalam tatanan perekonomian global katanya akan menjadi bangsa yang kalah, menjadi the loser dan bukan the winner.

Dalam aspek tertentu, itu benar asalkan kita pahami dalam era globalisasi ini kita harus cerdas dan arif di dalam mengalirkan sumber-sumber untuk meningkatkan kemakmuran kita di dalam mendapatkan peluang atau opportunity pada tingkat masyarakat dunia. Kalau itu bisa kita lakukan go global seperti itulah yang membawa manfaat. Tetapi saudara-saudara ada satu antitesis, ada paradigma lain di samping everything must go global misalnya, semuanya harus dikaitkan dengan hukum-hukum dan realitas globalisasi.

Saya mengistilahkan meskipun ada paradigma go global, saya pandang ada juga paradigma go local. Mari kita kembali ke negeri kita, provinsi, kabupaten, kota bahkan ke desa-desa bahkan ke rumah tangga-rumah tangga, go local, karena akhirnya apa yang perlu makan itu orang-seorang kalau ini masalah ketahanan pangan, rumah tangga demi rumah tangga, makanya saya senang ada kelompok petani, kelompok peternak, kelompok nelayan, kelompok usaha, semuanya.

Saya senang itu mengindikasikan saudara justru tahu bahwa meskipun statistiknya global: kemiskinan dunia sekarang sekian jumlahnya, kelaparan sekian, bangsa yang masih mengalami kesulitan pangan sekian, demikian juga nasional, tapi dalam praktek yang merasakan kalau ada kekurangan pangan ya orang-seorang, rumah tangga demi rumah tangga yang paling tahu adalah kelompok-kelompok RT, RW, dusun, desa, kampung dan sebagainya. Oleh karena itu go local ini baik pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota maupun sampai rumah tangga-rumah tangga harus juga kita jadikan paradigma, di samping paradigma yang katanya kita juga harus mengintegrasikan perekonomian kita dengan perekonomian dunia.

Go local ini bisa dimaknai begini, saudara-saudara, meskipun ada yang mengatakan, “Kalau kita lebih murah membeli pangan dari luar negeri, kenapa kita harus menanam sendiri? Beli saja. Begitulah hukum-hukum perdagangan internasional.” Kalau untuk pangan, saya berpikir tidak harus mengikuti seperti itu, apalagi krisis setiap saat membayangi dunia dan juga negara kita punya persoalan. Kalau pangan lebih bagus kita berketetapan untuk memiliki kemandirian, kemandirian pangan nasional. Alasannya pangan adalah kebutuhan dasar manusia, basic human need.

Ada seorang ahli psikologi namanya Abraham Maslow yang mengatakan ada hierarki, ada urutan yang diperlukan manusia. Yang paling diperlukan urutan pertama itu kebutuhan secara fisiologis: makan, minum tidak bisa ditunda. Setelah itu tercukupi, baru dia ingin aman, aman secara fisik, aman dari kejahatan, aman lapangan pekerjaannya, jangan sampai PHK. Setelah itu terpenuhi, dia ingin punya kawan, dia ingin bergaul. Setelah itu terpenuhi, dia merasa, ”Saya akan punya harga diri, saya punya citra.” Setelah itu yang paling atas, ”Saya ingin menjadi seseorang, I want to be somebody. Mengapa tidak? Saya ingin jadi bupati, saya ingin petani yang berhasil, saya ingin jadi pengusaha yang sukses.” Namanya aktualisasi diri, self-actualizism.

Kembali ke situ, semuanya yang paling diperlukan ya makan, minum. Oleh karena itu, pangan tidak ada substitusinya, oleh karena itu kemandirian, kecukupan memang punya alasan yang kuat, ditambah jumlah penduduk kita sudah mencapai 237 juta. Apakah kita bisa mandiri? Barangkali kalau Singapur tidak cukup lahannya untuk pertanian. Waktu Pak Fauzi Bowo mendapat penghargaan tadi, saya ingin bertanya, ini sawahnya di mana, pak? Saya takutnya yang tumbuh bukan padi, tapi gedung-gedung itu. Saya belum mengatakan masih ada. Negara kita 8 juta km2, 2 juta itu daratan, jadi terhampar luas.

Kemudian mengapa kita harus bangun kemandirian, saya ulangi berkali-kali dunia tidak aman, kadang-kadang mengalami krisis, jangan sampai kita kena getahnya, kita jadi korban dan yang terakhir harga diri. Bayangkan kalau Indonesia tanahnya luas begini, airnya lebih luas lagi kok kurang makan, kok kurang pangan. Itu tidak bisa diterima akal sehat. Oleh karena itu, kemandirian pangan secara nasional dalam aspek yang luas ya ketahanan itu harus kita wujudkan.

Sekarang saya ingin langsung saja dari nasional, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan saya ingin menukik ke desa, ke rumah tanggga-rumah tangga, saya beberapa kali lihat pameran, saya datang ke banyak daerah, saya lihat rumah dan pekarangan, saya lihat usaha di desa di bidang pangan, expo banyak sekali exhibition. Saya tertarik pada satu hal betapa kelompok-kelompok lokal, apakah petani, apakah usaha apapun di situ itu sering menyumbang terciptanya ketahanan pangan pada tingkat yang paling depan yang lokal. Nah, kalau semua kecamatan di Indonesia ini pada saatnya menyumbang ketahanan pangan nasional, rumah tangga-rumah tangga juga bisa begitu, paling tidak yang sangat diperlukan hari-sehari kalau itu ada persoalan di pasar itu juga bisa terpenuhi.

Poin saya adalah mari kita hidupkan terus kegiatan kelompok-kelompok kecil di seluruh Indonesia. Gunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat kalau itu diperlukan atau bantuan-bantuan yang lain. Manfaatkan ladang pekarangan untuk bisa ditanami tanaman pangan. Saya sering melihat dan memperhatikan rumah yang, rumahnya tipe 27 masih ada pekarangan, masih ada emper, masih ada di bawah atap, teras-teras itu apalagi yang tanahnya 200 meter itu, ditanami ada, di pot ada yang segala macam, ada yang lele, ada yang tomat, ada yang cabe, ada yang kacang panjang segala macam.

Mungkin, “Ah ngapain gitu-gitu, globlisasi kok gitu. Ah ini zaman baheula itu, zaman dulu itu.” Tetapi kalau itu juga tidak ditinggalkan kearifan lokal, upaya pribadi secara nasional itu juga something untuk mengurangi beban kekurangan pangan kalau itu terjadi. Oleh karena itu, saya berharap Menteri Pertanian bersama saya dengan para gubernur, para bupati, walikota kalau perlu bisa dibikin contoh atau model rumah yang kecil, pekarangan yang tidak luas, yang bisa menghasilkan sesuatu.

Jadi jangan hanya pamerannya di Jakarta, yang nonton paling banyak hanya 5.000, padahal yang pingin tahu informasi ini seluruh Indonesia. Mungkin kalau kepala desa setiap hari kan bisa ketemu dengan warganya, ya paling tidak seminggu sekali aktif, peduli itu akan berubah. Kepala desa harus lebih aktif di tempat-tempat itu karena merekalah pemimpin terdepan dan tentu kalau dari segi anggaran kita sedang merancang pengalokasiannya, kalau desa itu juga mendapatkan bantuan yang memadai untuk betul-betul digunakan di desanya.

Pendek kata, ini soal yang barangkali tidak menarik, tidak akan masuk media biasanya yang begini-begini, kurang seru. Saya dengan Pak Sultan tidak ada apa-apa, diadu-adu, itu senangnya media. Saya menghormati Pak Sultan, beliau juga menghormati saya. Itulah tapi jadi berita terus, kita harus sabar, Pak Sultan.

Yang begini-begini meskipun tidak menarik, tidak sexy, itu harus kita lakukan, itu mulia, Allah Maha Tahu, dicatat sebagai amal kita selama hidup di dunia.

Saudara-saudara
Itulah yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini dan sekali lagi selamat, mari kita tingkatkan upaya kita bersama untuk meningkatkan ketahanan pangan di negeri kita ini.

Sekian
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

sumber : www.presidenri.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar